Sepertinya Aku Kurang Bersyukur #1
Sebelumnya aku mulai dengan "Alhamdulillah" karena hari ini aku sadar, etiologi atau penyebab dari kurang beruntungnya suatu nasib atau keadaan seseorang itu bias jadi karena "kurang bersyukur". Oh ya, ceritaku ini bukan tentang bagaimana aku mengeluh, cukup ambil saja hikmah dari kejadian yang aku alami. Jangan sampai terulang di kalian ya!
Oke, 27 Mei 2018 ku lewati hari dengan santai dan hati yang biasa-biasa saja. Membaca sedikit materi untuk persiapan ujian hari Senin dan ujian-ujian berikutnya. Jujur, di hari yang bisa dibilang "kosong" itu, aku tidak memanfaatkan waktu berharga itu untuk melaksanakan amalan-amalan yang seharusnya bisa untuk aku maksimalkan di bulan Ramadhan. Mungkin karena hal itu Allah sangat menyayangkan perbuatanku itu, hingga Dia membuatku tidak bisa menangis saat meminta ampun padaNya. Hati nurani yang tak pernah salah ini memang berada di posisi diantara kebimbangan. Seorang hamba, lemah, homesick, tetapi tidak berniat untuk mendekatiNya. Ekstrimitas atas dan bawah seakan ditimpa rasa ke-mager-an yang sangat luar biasa. Astaghfirullah.
Sampai pada akhirnya, di malam hari. Allah kemudian menunjukkan rasa kasih sayangNya. Allah 'jedot' kan kepalaku di dipan Kasur ketika aku sedang bersujud saat shalat Isya. Seketika rasa sakit yang luar biasa muncul di kepala bagian belakangku. Air mata tiba-tiba tidak bias berhenti keluar, karena memang menahan rasa sakit dan kemudian di saat itu pula aku luluh, teringat akan penyia-nyian hari ini dan hari yang sebelum-sebelumnya berharga. Memang jika dibayangkan seperti lelucon, tetapi bagiku itu adalah salah satu cara Allah untuk menampar hamba Nya yang hampir 'lengah' dari pandangan kasih sayangNya.
Bersambung...
Oke, 27 Mei 2018 ku lewati hari dengan santai dan hati yang biasa-biasa saja. Membaca sedikit materi untuk persiapan ujian hari Senin dan ujian-ujian berikutnya. Jujur, di hari yang bisa dibilang "kosong" itu, aku tidak memanfaatkan waktu berharga itu untuk melaksanakan amalan-amalan yang seharusnya bisa untuk aku maksimalkan di bulan Ramadhan. Mungkin karena hal itu Allah sangat menyayangkan perbuatanku itu, hingga Dia membuatku tidak bisa menangis saat meminta ampun padaNya. Hati nurani yang tak pernah salah ini memang berada di posisi diantara kebimbangan. Seorang hamba, lemah, homesick, tetapi tidak berniat untuk mendekatiNya. Ekstrimitas atas dan bawah seakan ditimpa rasa ke-mager-an yang sangat luar biasa. Astaghfirullah.
Sampai pada akhirnya, di malam hari. Allah kemudian menunjukkan rasa kasih sayangNya. Allah 'jedot' kan kepalaku di dipan Kasur ketika aku sedang bersujud saat shalat Isya. Seketika rasa sakit yang luar biasa muncul di kepala bagian belakangku. Air mata tiba-tiba tidak bias berhenti keluar, karena memang menahan rasa sakit dan kemudian di saat itu pula aku luluh, teringat akan penyia-nyian hari ini dan hari yang sebelum-sebelumnya berharga. Memang jika dibayangkan seperti lelucon, tetapi bagiku itu adalah salah satu cara Allah untuk menampar hamba Nya yang hampir 'lengah' dari pandangan kasih sayangNya.
Bersambung...
Comments
Post a Comment