Sepertinya Aku Kurang Bersyukur #2
Setelah diingatkan oleh Allah dengan 'jedotan'. Hari ini Allah menampar aku lagi. Entah pribadi ini yang masih 'bandel' atau memang Allah ingin melihat peningkatan kualitas ibadah hambaNya.
Hari ini, 28 Mei 2018 adalah jadwal untuk klarifikasi atau semacam kuliah umum dan ujian skills lab untuk blok Orthodonti. Aku disentil bukan saat klarifikasi, tetapi memori yang sangat ingat-able itu adalah ketika menjalankan ujian skills lab. Ku akui, persiapan yang tidak begitu mantap untuk ujian kali ini. Bermodalkan membaca teori dan 'sedikit' latihan untuk melatih kekuatan dan ke-lihay-an tangan ini dalam membengkokkan kawat. Padahal, fyi blok ini memang membutuhkan banyak latihan agar bisa lancar mengikuti agenda-agenda praktikum yang akan dijalankan.
Kesalahan fatal yang ku perbuat mungkin tidak akan aku jelaskan, karena diri ini hanya ingin menyimpan dalam-dalam kejadian itu di lubuk hati ter inferior dan ter posterior agar tidak menjadi demotivasi menghadapi ujian berikutnya. Intinya, kesalahan fatal ku lakukan sehingga dosen penilai hasil karya tanganku itu menjadi bingung dan mungkin beliau kecewa........ :(
Huft, memang salah, Tetapi apa boleh buat, penyesalan pasti selalu muncul di akhir. Kalo di awal namanya pembukaan *eh pendaftaran. Eits, namun demikian yang paling penting untuk digaris bawahi disini adalah bukan mengenang penyesalan atas kesalahan yang telah dibuat, tetapi tentang bagaimana seseorang dapat menebus kesalahan tersebut. Menangis memang bisa menjadi penangkal segala emosi, tetapi bukan menangis untuk mengeluarkan air mata saja. Menangis penuh makna, kembali kepada Allah dan meminta ampun pada-Nya. Jika dikatakan itu adalah sebuah takdir, maka ia benar. Namun, tidak hanya dengan diam dan menunggu takdir baik akan datang menciptakan senyum di bibir manis.
Kesalahan tentu sepenuhnya datang dari manusia itu sendiri, of course yakin seyakin-yakinnya Allah sudah memberi kode-kodeNya tetapi tidak dihiraukan oleh hamba tersebut sehingga diperbuatlah kesalahan. Intinya bagaimana kita menyikapi kesalahan yang kita lakukan, apakah tetap diam dan membiarkan penyesalan berlarut-larut atau mungkin kita akan menebus kesalahan tersebut dengan sepenuh hati sehingga menjadi kebaikan yang bernilai pahala oleh Allah.
Bye, Semangat untuk aku.
Semangat untuk semua :)
Semoga usaha yang kita lakukan selama ini bernilai ibadah dan diberkahi Allah, aamiin.
Hari ini, 28 Mei 2018 adalah jadwal untuk klarifikasi atau semacam kuliah umum dan ujian skills lab untuk blok Orthodonti. Aku disentil bukan saat klarifikasi, tetapi memori yang sangat ingat-able itu adalah ketika menjalankan ujian skills lab. Ku akui, persiapan yang tidak begitu mantap untuk ujian kali ini. Bermodalkan membaca teori dan 'sedikit' latihan untuk melatih kekuatan dan ke-lihay-an tangan ini dalam membengkokkan kawat. Padahal, fyi blok ini memang membutuhkan banyak latihan agar bisa lancar mengikuti agenda-agenda praktikum yang akan dijalankan.
Kesalahan fatal yang ku perbuat mungkin tidak akan aku jelaskan, karena diri ini hanya ingin menyimpan dalam-dalam kejadian itu di lubuk hati ter inferior dan ter posterior agar tidak menjadi demotivasi menghadapi ujian berikutnya. Intinya, kesalahan fatal ku lakukan sehingga dosen penilai hasil karya tanganku itu menjadi bingung dan mungkin beliau kecewa........ :(
Huft, memang salah, Tetapi apa boleh buat, penyesalan pasti selalu muncul di akhir. Kalo di awal namanya pembukaan *eh pendaftaran. Eits, namun demikian yang paling penting untuk digaris bawahi disini adalah bukan mengenang penyesalan atas kesalahan yang telah dibuat, tetapi tentang bagaimana seseorang dapat menebus kesalahan tersebut. Menangis memang bisa menjadi penangkal segala emosi, tetapi bukan menangis untuk mengeluarkan air mata saja. Menangis penuh makna, kembali kepada Allah dan meminta ampun pada-Nya. Jika dikatakan itu adalah sebuah takdir, maka ia benar. Namun, tidak hanya dengan diam dan menunggu takdir baik akan datang menciptakan senyum di bibir manis.
Kesalahan tentu sepenuhnya datang dari manusia itu sendiri, of course yakin seyakin-yakinnya Allah sudah memberi kode-kodeNya tetapi tidak dihiraukan oleh hamba tersebut sehingga diperbuatlah kesalahan. Intinya bagaimana kita menyikapi kesalahan yang kita lakukan, apakah tetap diam dan membiarkan penyesalan berlarut-larut atau mungkin kita akan menebus kesalahan tersebut dengan sepenuh hati sehingga menjadi kebaikan yang bernilai pahala oleh Allah.
Bye, Semangat untuk aku.
Semangat untuk semua :)
Semoga usaha yang kita lakukan selama ini bernilai ibadah dan diberkahi Allah, aamiin.
Comments
Post a Comment