Ifthar di Angkot


Hari itu Senin, dimana mamaku datang seperti biasa untuk belanja keperluan toko Pekanbaru di Tanah Abang. Niatnya sahur pertama ku lewati sama mama. Tapi apalah daya, hari itu kelas pagi jam delapan. Aku takut tak keburu. Daripada telat, aku lebih rela untuk sahur pertama di kosan sendiri. Namanya juga puasa pertama, semuanya ku siapkan. Nasi telah ku "tanak" sejak malam sebelum sahur. Sebelum tidur pun ku pikirkan lauk apa yang akan ku makan parak siangnya.

Sahur dan Subuh terlewati, saat itu ada DK 2 dan Skills Lab Radiologi, yang which is pulangnya lama, sedang aku harus balik ke Jakarta untuk berbuka bersama mama dan temannya. Akhirnya aku baru berangkat dari kosan jam setengah 5, dan sesampainya di Stasiun Karet sudah beberapa menit menjelang adzan. Yasudah, untung aku membawa BroPie makanan yang dibawakan oleh mama di hari sebelumnya. Tanpa minum dan kurma, aku langsung membuka plastik kue itu dan melahapnya. Hmm. Akhirnya aku merasakan apa yang bapak supir dan mereka yang masih bekerja saat waktu berbuka tiba. Tak penting bagaimana mereka makan di tempat mewah atau makan takjil yang berbeda setiap harinya. Makan saja apa yang ada.

Selanjutnya, menghabiskan malam ini tentu tak kusia-siakan. Tarwih dan Isya nya kita shalat di Masjid Istiqlal Jakarta, sesungguhnya juga melepas rindu. Ketika sedang berputar dilema memilih hendak makan apa, ternyata aku bertemu kakak sanak sasuku, yang dulunya saat MTs aku dan dia sering berangkat bareng. Ternyata dia makin berisi. Haha. Pulang dari tarwih, kemudian menuju penginapan mama dan kemudian tepar karena menurutku hari itu lelah sekali.

Hikmah hari ini: Terkadang kita terlalu muluk-muluk untuk memikirkan akan berbuka dimana, makan apa, tapi satu hal yang perlu diingat adalah hal sesederhana apapun bisa diambil berkah dan maknanya, dijadikan sebuah kebahagiaan asal kita bisa menangkap momen baik itu, menjadikan sesuatu berarti serta difigurakan dengan sesederhana kebahagiaan.

Comments